movie review room

Movie Review | Room (2015) : Ketika Dunia Hanya Seluas Ruang Kamar

Beberapa kali liat sepintas sinopsis film Room yang selalu muncul di top feed situs streamingan, yang ada di bayangan saya adalah film ini akan lebih ke crime-thriller karena bau-bau penculikan dan penyekapan. Dan karena saya suka agak serem kalau nonton film jenis begitu, saya pun akhirnya ga nonton-nonton. Sampai beberapa waktu lalu pemeran wanita utama Room ini, Brie Larson, berhasil mamborong Goldern Globe, SAG, BAFTA dan Oscar untuk Best Actress. Jadi lah saya penasaran, dan akhirnya nonton.

review film room

Room 2015

Film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Emma Donoghue ini, bercerita tentang kehidupan ibu dan anaknya yang berusia 5 tahun dalam sebuah ruangan (The Room). Ruangan disini lebih tepatnya adalah seperti gudang kecil di pekarangan rumah, yang berukuran sekitar 4mx4m. Hidup di gudang? Ya, si ibu atau panggilannya “Ma” dan bernama Joy Newsome (Brie Larson) adalah korban penculikan dan penyekapan Nick (Sean Bridgers) saat umurnya 17 tahun. Tujuh tahun berlalu, kini Ma telah mempunyai seorang anak laki-laki, Jack Newsome (Jacob Tremblay), berumur 5 tahun.

Jack yang sejak lahir tidak pernah melihat dunia luar, membuatnya berpikir kalau dunia nyata hanyalah seluas kamar. Begitu juga dengan si ibu, kerena keputusasaannya untuk bisa melarikan diri dan dia tak mau memberikan harapan ke pada anaknya, dia selalu menanamkan bahwa ruangan itu lah dunia mereka. Sebuah ranjang, lemari, bathtub, mini kitchen, wastafel, meja makan, dan televisi, berarti lebih untuk mereka, terutama untuk Jack. Tak hanya sebagai sebuah barang, Jack pun menjadikan benda-benda diruangan itu sebagai alat dan tempat bermain, bahkan sudah menganggap benda-benda itu sebagai teman. Sinar matahari pun menjadi sangat berarti untuk mereka, karena satu-satunya cara untuk melihat langit dan matahari adalah dari sekotak kaca di atap ruangan mereka.

Sedikit stretching di pagi hari, mandi, makan, menonton tv, adalah hal-hal rutin yang merka lakukan. Hingga akhirnya beberapa hal membuat Joy kembali berpikir untuk bisa keluar dari ruangan tersebut atau paling tidak bisa membuat Jack melihat dunia luar. Beberapa rencana melarikan diri pun dipikirkan oleh Joy. Dimana dengan pura-pura Jack meninggal, akhirnya mereka bisa keluar dari The Room. Perjuangan dan masalah mereka tidak hanya sampai disitu. Keluar ke dunia nyata yang lebih luas, tidak begitu saja membuat mereka nyaman. Menghadapi trauma, masalah kesehatan, menyelesaikan persoalan hukum, berhadapan dengan wartawan dan publik, membuat mereka terutama Joy mengalamai tekanan psikis lebih.

Ma and Jack Room

Ma and Jack

Well, film yang awalnya saya kira bakalan serem ini..ternyata drama abis  😆  . Disutradarai oleh Lenny Abrahamsond, film yang bergenre independent-drama film ini memang tidak salah lagi disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik sepanjang tahun 2015 kemaren. Sudut pandang cerita yang bagus dan didukung oleh aktor yang luar biasa, membuat film ini walau ceritanya “pahit” tetapi penyajiannya sangat indah dan hangat. Apalagi saat scene-scene Jack saat bermain dengan dunianya, ditambah dengan monolog-monolog yang pas…hmm beautifully built. Yang menarik dari plotnya adalah film ini bisa membuat penonton (saya maksudnya) dari yang tadinya zen-adem ayem, tita-tiba ada yang menegangkan (sampai saya teriak-teriak heboh dan bikin geger orang rumah dikirain ada apa :mrgreen: ), dan hebatnya scene sekitar 7 menit berikutnya berhasil membuat saya berkaca-kaca  😳 .

Hal lain yang patut diacungi jempol di film ini adalah aktornya, terutama si kecil Jack yang diperankan oleh Jacob Tremblay. Dibandingkan Larson, kalau menurut saya, peran dan akting Tremblay sangat mencuri perhatian. Bocah 7-8 tahun, dengan karakter unik yang harus dia perankan dan dia berhasil membawakannya…sesuatu banget sih. Untuk peran Ma yang diperankan Brie Larson, entah kenapa kalau menurut saya agak kurang. Kalau semisal suruh pilih antara Brie Larson (Room) dan Alicia Vikander (The Danish Girl) sebagai best actress, saya pilih Alicia Vikander.

Overall…recommended lah filmnya!

 

2 thoughts on “Movie Review | Room (2015) : Ketika Dunia Hanya Seluas Ruang Kamar

  1. nency says:

    awalnya berasa membosankan bangeet ditambah lagi belum baca sinopsis sebelum nonton, sampe 30 menit kemudian baru paham inti ceritanya…hahaha.

Leave a Reply to rsasti Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>