Penambang sedang membuat souvenir dari belerang

Gunung Ijen : Kawah, Blue Fire, dan Penambang Belerang

Kembali berkeinginan untuk melihat keindahan alam Indonesia, ajakan untuk mendaki Gunung Ijen pun datang dari ibu saya (yang diajak temannya juga). Kebetulan gunung ini masuk ke travel wishlist saya, tanpa pikir panjang saya mengiyakan ajakan itu, “mumpung ada yang ngajak” begitulah pertimbangannya.

Sebelum ke Ijen, saya transit dulu di Jember untuk menjemput kerabat yang akan mengantar kita mendaki Gunung Ijen (Read : Pantai Tanjung Pupuma Wisata Andalan Kota Jember). Ada dua jalur untuk menuju gunung ini, yaitu melalui Bondowoso dan Banyuwangi.  Kerena kita memulai perjalanan dari Kota Jember, kita pun mengambil jalur Bondowoso yang memang lebih dekat. Dengan kendaraan pribadi, kami pun berangkat jam 7 malam. Perjalanan Jember-Bondowoso membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Sampai di pos paltuding yang merupakan pos pendaftaran dan pos mulai pendakian, kira-kira jam 11 malam, ternyata pendaftaran masih ditutup. Berdasarkan informasi penjual mi rebus, pendaftaran dan pendakian akan dibuka jam 1.30 am.

Setelah loket pendaftaran dibuka kami pun memulai pendakian, dari tulisan di pos, jarak dari pos paltuding sampai puncak adalah 3 km (tidak begitu jauh pikir saya). Malam itu pendakian cukup ramai baik oleh pendaki dalam maupun luar negeri. Satu kilo pertama jalan sudah mulai menanjak, meski belum begitu curam cukup membuat ngos-ngosan. Di satu kilo selanjutnya adalah yang paling menghabiskan tenaga, dengan kemiringan bisa sampai 60 derajat atau lebih, speed jalan pun menjadi pelan dan banyak berhenti untuk beristirahat. Kemiringan akan mulai berkurang setelah satu kilo terakhir, setelah beberatpa meter dari pos penambangan belerang. Walau kondisi jalannya sebagian besar adalah tanah rata (bukan batuan terjal, semak, atau jalan berakaar) dan katanya hanya 3 km, perjalanan menuju puncak ijen bisa dibilang cukup melelahakan karena kemiringannya.

Kondisi Jalur Pendakian Ijen

Kondisi Jalur Pendakian Ijen

Sekitar jam 4.15 kami pun sampai di bibir kawah ijen, lega akhirnya bisa melihat kaldera seluas 5.466 Ha  yang berada di ketinggian 2.368 mdpl ini. Setelah sampai kami pun langsung mencari spot untuk melihat blue fire dari kejauhan. Fenomena blue fire, yang hanya ada dua di dunia, sebenarnya adalah aliran cairan belerang dimana nampak seperti nyala biru. Blue fire ini bisa terlihat dari tengah malam sampai sebelum matahari terbit. Jika pendaki ingin  melihat blue fire lebih dekat, maka pendaki harus menuruni dinding kaldera menuju tepi kawah. Kerena jalan turun ini berbahaya, disarankan untuk menggunakan jasa pemandu. Setelah puas melihat blue fire, sambil menunggu sunrise, saya pun berkeliling di sekitar kawah. Ternyata banyak spot cantik selain kawah dan blue fire, salah satunya adalah dari bukit di atas kawah ini. Tampak gunung tetangga yang adalah Gunung Merapi masih diselimuti awan. Diatas sini juga terdapat pohon-pohon mati yang juga sangat menarik untuk dijadikan tempat foto.

Another Side of Ijen Crater

Another Charm of Ijen Crater

Tak beberapa lama langit sudah mulai terang. Tapi sayang, hari itu asap belerang sangatlah tebal sehingga danau kawah yang biasanya bewarna hijau tosca pun tidak begitu tampak.

Kawah Ijen

Kawah Ijen

Hal menarik lainnya di sini adalah penambang belerang. Sebagai salah satu gunung penghasil utama belerang di Indonesia, kontrasnya penambangan belerang ijen masih menggunakan cara tradisional baik dari proses pengambilan maupun pengangkatan. Bongkahan belerang dihasilkan dari gas belerang yang disalurkan dengan pipa sehingga mengalami proses pembekuan, dari gumpalan tetesan itu para penambang menggunakan linggis untuk memecahnya. Dalam proses pengangkutannya, para penambang hebat ini mengangkutnya dari tepi kawah di puncak Gunung Ijen sampai dengan pos paltuding tanpa bantuan alat transportasi. Dengan pikulan yang terdiri dari dua keranjang, penambang bisa membawa 70-90kg bongkahan belerang sekali angkut. Dalam sehari penambang bisa menambang sampai tiga kali. Dengan medan sulit, resiko yang tinggi, dan pikulan yang berat cerita penambang ini, menjadi cerita  tersendiri yang sangat melekat dengan Gunung Ijen.

Penambang Belerang Ijen

Penambang Belerang Ijen

Waktu tempuh perjalanan turun tidak lah jauh beda dengan saat naik. Tak lain karena pemandangan di jalur pendakian ijen ini sangat menarik untuk dinikmati dan di foto, sehingga sering kali kami berhenti untuk sekedar mengambil gambar. Selama perjalanan turun, selain berpapasan dengan pendaki lain yang hendak naik, beberapa penambang belerang juga masih sibuk membawa pikulan. Ketika ditanya, rata-rata mereka sudah bolak-balik kali kedua untuk mengambil belerang sejak dini hari tadi. Walau sempat khawatir diawal kalau ibu dan salah satu temannya yang sudah berusia 70 tahun saya tidak akan berhasil sampai puncak, bersyukurlah kami berhasil naik dan turun dengan selamat.

Journey to The Top of Mt. Ijen-2.443 Mdpl

Journey to The Top of Mt. Ijen – 2.443 Mdpl

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>