the geography of bliss

Book Review : The Geography Of Bliss By Eric Weiner

2016 Reading Challenge #1

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya tentang resolusi di 2016, dimana salah satunya adalah tantangan “minimal satu buku tiap bulan”, hari ini akhirnya saya menyelesaikan satu buku dengan judul The Geography of Bliss  yang ditulis oleh Eric Weiner.

Buku ini sebenarnya sudah saya beli sejak dua tahun yang lalu (Lah baru selesai dibaca sekarang?  😯 ). Ya begitulah..salah satu kebiasaan buruk saya, sering kali satu buku belum selesai dibaca udah beli lagi buku yang lain, jadilah banyak buku yang belum kebaca selesai  :mrgreen: . Kalau buku yang satu ini, dulu berhenti sampai kurang lebih setengah buku, tapi masih inget untungnya cerita di bab-bab sebelumnya.

The geography of bliss eric weiner

Bukunya Sampai Udah Lecek :-P

The Geography of Bliss, adalah buku non-fiksi yang lebih mirip dengan catatan perjalanan. Disini, penulis mengisahkan cerita perjalanannya keliling dunia untuk mencari tempat yang paling membahagiakan. Eric yang seorang jurnalis menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang tidak bahagia, yang mungkin salah satunya disebabkan karena dia terlalu sering meliput hal-hal yang kurang membahagiakan, bad news is a good news kalau para pemburu berita bilang. Hingga disuatu titik dia berpikiran ingin “mencari kebahagiaan ” dalam artian mencari tau apa yang sebenarnya membuat seseorang bahagia, kenapa penduduk disuatu wilayah bisa lebih bahagia dibanding yang lain? apa uang yang membuat seseorang bahagia? ataukah keluarga? atau apa? Disitulah akhirnya dia memulai researchnya selama kurang lebih satu tahun dengan mengunjungi beberapa negara yang sekiranya akan bisa memberikan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

happiness

Perjalanannya di mulai dari Belanda yang merupakan salah satu negara papan atas tentang masalah kebahagian. Diikuti dengan perjalanan lain ke beberapa negara Eropa, Timur Tengah, Skandinavia, Asia, dan Amerika. Dan..apakah dia mendapatkan jawaban atas pertanyaan “apa kunci kebahagiaan”? Merumuskan suatu kebahagian bukanlah suatu yang mudah, ukuran dan kunci kebahagian antara satu negara dengan yang lain tidaklah sama. Orang belanda sudah cukup bahagia dengan nongkrong di cafe dan dilegalkannya ganja. Di “negara es”, Islandia, kebahagiaan bisa ditemukan dalam sebotol bir. Untuk orang-orang Thailand, jangan terlalu banyak berpikir adalah kunci kebahagiaan menurut mereka. Orang Moldova tidak bahagia karena mereka tidak punya uang. Sedangkan untuk orang Swiss, malah dianggap tabu jika membicarakan uang, mereka akan lebih bahagia jika membicaraakan icon kebanggaan negara mereka yaitu Pegunungan Alpen. Dan masih banyak lagi cerita perjalanannya dalam mencari kebahagiaan, yang intinya semua balik lagi ke diri kita sendiri. Kebahagian bisa dimana pun, karena apa pun, tinggal diri kita saja mau menerima atau tidak. Seperti yang dikutip dari buku ini “Ada banyak jalan menuju kebahagian”.

Yap..begitulah kurang lebih ringkasan dari buku setebal 512 halaman ini. Terdengar klise kah endingnya? Saya sendiri menyukai buku ini lebih ke pengalaman perjalanan yang disampaikan, terutama ke unsur budaya. Dengan buku ini, saya jadi mengetahui lebih dalam tentang kebiasaan atau kehidupan penduduk  di suatu negara, karena si Penulis banyak sekali berinteraksi dengan penduduk asli, menanyakan pendangan mereka terhadap kebahagian di negaranya. Kalau soal penulisannya, disini terlihat sekalai kalau penulis memang “hard thinker” yang lebih ke arah skeptis (menurut saya). Dalam banyak moment, dia sering mengkorelasikan suatu kejadian dengan suatu teori ataupun dengan pergumulan pikirannya sendiri. Yang di bab-bab akhir dia pun mulai menyadari mungkin itulah salah satu sumber ketidakbahagiannya selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>